Balada Malam

Kau datang menjelma bocah lanang
Bermata sendu membiru kerinduan
“Pengen teh anget..” pintamu manja setelah membuka sepatu kuyu
Kusambut senyum terindah diiringi satu pinta:
Mandilah dulu, air hangat sudah siap.

Kau mengangguk,
Meski tampak enggan dan memang kutahu kau sedikit benci mandi malam.
Tapi jika aku yang memohon (atau lebih tepat menyuruh?), tak sekali pun kau tak mengiyakan.

Hingga sejumput waktu jumpa itu,
Habis terlahap cengkrama mesra
Saling mendengar dan bertutur kekisah yang terkumpul,
Sesekali percikan pertengkaran disudahi hangat pelukan..

Sembari kupotongi kukukuku -yang lebih sering kau lakoni sendiri,
Atau kurontoki bulu ketiakmu dengan krim yang membuatmu geli,
Dan kusapu para ketombe yang sama warnanya dengan rambutmu..
Sangat nyaman dan menyenangkan.

Meski sama-sama kita sadari,
Saat mentari kembali nanti,
Dunia belum tentu mengijinkan kita saling memeluk lagi.

Leave a Comment


*